Manajemen S1
Analisis Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Statistical Quality Control (SQC) Untuk Meminimalkan Produk Gagal (Studi Kasus Pada UKM Kerupuk Mirasa)
Muhamad Ilham Solihudin (41183402170137)
Analisis Pengendalian Kualitas dengan Menggunakan Statistical Quality Control (SQC) untuk Meminimalkan Produk Gagal (Studi Kasus pada UKM Kerupuk Mirasa)
xiii + 83 Halaman + 4 Tabel + 19 Gambar + 2 Grafik + 4 Diagram + 7 Lampiran
Kata Kunci : Pengendalian Kualitas, Produk Cacat, Statistical Quality Control
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian kualitas dengan menggunakan statistical quality control (SQC) untuk meminimalkan produk gagal pada UKM Kerupuk Mirasa. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang menggambarkan proses pengendalian kualitas produk perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah produksi kerupuk pada tahun 2021 di UKM Kerupuk Mirasa dan sampel yang digunakan adalah produk kerupuk yang mengalami cacat/reject. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan seven tools quality.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan lembar pemeriksaan (check sheet) menujukkan jumlah produk kerupuk yang dihasilkan pada tahun 2021 yaitu sebesar 339.000 dengan jumlah produk kerupuk yang gagal sebesar 10.475 yang terdiri dari beberapa jenis kegagalan produk seperti kerupuk yang patah, kerupuk kerupuk yang tidak mengembang dan kerupuk yang tidak tahan lama. Hasil diagram batang (histogram) terdapat jenis kegagalan produk yang sering terjadi pada tahun 2021 adalah kerupuk yang patah dengan jumlah sebanyak 4.162, selanjutnya kerupuk yang tidak mengembang sebanyak 3.214, dan kerupuk yang tidak tahan lama sebanyak 3.099. Hasil peta kendali (p-chart) pada data tahun 2021 terdapat 1 titik yang masih berada di luar batas kendali atas yang terjadi pada bulan Februari, sehingga memerlukan adanya suatu perbaikan dalam mengendalikan kualitas produk untuk meminimalisir kecacatan pada produk akhir. Hasil diagram pareto menunjukan persentase kerupuk yang patah 39,7%, kerupuk yang tidak mengembang 30,7% dan kerupuk yang tidak tahan lama 29,6%. Berdasarkan hasil diagram sebab akibat faktor dari kegagalan produk tersebut disebabkan oleh (1) manusia yaitu tenaga kerja yang kurang teliti, kurangnya kedisiplin dalam melakukan pekerjaannya dan kurangnya pengawasan terhadap kondisi produk pada saat proses produksi sedang berlangsung. (2) bahan baku yang digunakan masih berkuliatas rendah. (3) Mesin yang digunakan dalam kondisi kurangnya perawatan. (4) Lingkungan yaitu tempat penyimpanan kerupuk yang dalam keadaan lembap. Kerupuk yang tidak mengembang dan kerupuk tidak tahan lama dibuang karena tidak dapat dikonsumsi sedangkan kerupuk yang patah dibagikan kepada karyawan dan produsen.
Tidak tersedia versi lain